30 Oktober 2009

Analisis Jurnal 2


CREATING CONSTRUCTIVIST PHYSICS FOR INTRODUCTORY UNIVERSITY CLASSES

Jennifer Wilhelm
Texas Tech University

Beth Thacker
Texas Tech University

Ronald Wilhelm
Texas Tech University

Electronic Journal of Science Education Vol. 11, No. 2 (2007)

Latar belakang penulisan artikel ini dimulai dengan bukti-bukti penelitian yang telah menunjukkan bahwa pengajaran fisika metode tradisional telah gagal membangun konsep penting fisika pada siswa. Peneliti ingin mengulang sukses yang sama dalam pengajaran fisika di tingkat SMA yang telah dilakukan oleh Well dkk, namun dalam hal akan dilakukakn di tingkat universitas. Yang dilakukannya adalah memodifikasi kurikulum dengan format textbook-lecture-lab tradisional diganti dengan hands-on, lingkungan belajar laboratorium berbasis proyek. Kurikulum didesain dan dikembangkan berdasarkan penelitian pada bagaimana orang belajar sains (Bransford dkk, Travis & Lord, Donovan dan Bransford).
Ada tifga tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini; (1) ingin mengamati sukses yang sama seperti penelitian sebelumnya pada jurusan dan mata kuliah berbeda, (2) Ingin menguji-lapangankan kurikulum yang dikembangkan, dan (3) Fisiak dasar yang diajarkan ini diikuti oleh sebagian besar siswa calon guru. Diharapkan mereka mendapatkan pengalaman pengajaran non-tradisional ini dari pengajaran yang diterima sehingga nantinya mereka dapat mengimplementasikannya di kelas.
Selanjutnya peneliti memaparkan landasan teori tentang definisi konstruktivis dan inkuiri serta aplikasinya dalam sains dan matematika dari berbagai referensi. Hoovers (2006) mendefinisikan konstruktivis dengan cara berikut. Pembelajaran berlangsung aktif, tidak pasif. Jika apa yang ditemui siswa tidak konsisten dengan pemahaman mereka saat itu, pemahaman mereka dapat berubah untuk memperbaharui pengalaman barunya. Mereka menerapkan pemahaman mereka saat itu, mencatat unsur-unsur yang relevan, dan berdasarkan pada pertimbangan tersebut, mereka dapat memodifikasi pengetahuan.
Salah satu kutipan yang diambil Harwood (2004) mengemukakan bahwa inkuiri memiliki komponen-komponen utama: (1) mencari pertanyaan umum; (2) mendefinisikan suatu masalah; (3) mengajukan pertanyaan; (4) menyelidiki yang diketahui; (5) mengungkapkan dugaan; (6) melakukan perencanaan; (7) menguji hasil; (8) merefleksikan temuan; (9) mengkomunikasikan; dan (10) melakukan pengamatan. Hake (2000) menyebutnya Interactive Engagement methods, yang dicirikan dengan keterlibatan interactive siswa dalam aktivitas heads-on (selalu) dan hands-on (biasanya) yang segera memberikan umpan balik melalui diskusi dengan teman dan/atau gurunya.
Adapun yang didefinikan dengan metode tradisional adalah metode yang terutama menyandarkan pada aktivitas pasif siswa, kegiatan lab terstruktur, dan ujian algorithmic-problem.
Partisipan terdiri atas 38 otang terbagi dalam dua kelas, masing-masing 24 dan 14 orang, 16 laki-laki, 22 perempuan.
Prosedur penelitiannya digambarkan sebagai berikut. Mata kuliah yang menjadi objek penetlitian yaitu pengantar fisika diberikan dengan bobot 4 sks; semuanya dilakukan melalui laboratory-based with individualized group “lectures.” Siswa belajar dengan melalui hands-on, minds-on, computer-based laboratory experiments. Dengan menggunakan metode pengajaran konstruktivis, siswa tidak mengikuti format buku teks/kuliah/lab yang umum, tetapi dengan: (a) membuat prediksi untuk menguji prekonsepsi (b) merefleksikannya pada observasi dan memperjelas konsepsi (c) mengembangkan perkiraan dan generalisasi berdasarkan observasi, lalu mendesain eksperimen mereka sendiri untuk memperkuat perkiraan mereka (d) melakukan eksperimen yang dimaksudkan untuk menguji prediksi dan menerapkan pemahaman baru mereka pada penyelesaian permasalahan lain yang berhubungan (e) bekerja pada projek akhir yang mereka pilih.
Semua kegiatan lab yang dilakukan harus ditulis dalam jurnal menggunakan format naratif guna menggambarkan proses berpikir mereka. Semua kelompok tidak harus bekerja dalam eksperimen inkuiri yang sama pada saat yang sama. Siswa dapat melaksanakan eksperimen inkuiri mereka dengan berbagai cara dan mempelajari peluang-peluangnya melalui penilaian terhadap perkiraan mereka, dengan mengajari teman sekelompoknya, dan dengan bimbingan individu pengajarnya jika diperlukan.
Fokus penelitian ini adalah pada pemeriksaan apakah konsep-konsep fisika menjadi jelas dan bermakna bagi siswa dengan menggunakan teknik pengajaran konstruktivis versi penulis. Desain penelitian ini dengan desain penelitian metode campuran. Data terdiri atas proyek dan presentasi akhir siswa, pre/pos FCI, dan interview di akhir kuliah. Pemahaman dan konstruksi pengetahuan siswa tentang konsep-konsep fisika dan aplikasinya dianalisis melalui triangulasi data.
Penulis memberikan contoh beberapa kegiatan bagaimana siswa menggunakan pengetahuan awal mereka dan pengamatannya untuk membangun model-model. Mereka mengembangkan prosedur ilmiah dan matematis. Mereka memprediksi dan mempertimbangkan beberapa situasi fisis. Setelah melakukan eksperimen untuk mengetes prediksi mereka dan menguji hasil representasi grafik, siswa mampu untuk menemukan hubungan fungsional dan persamaan yang menggambarkan kejadian yang diamati.
Kesimpulan
Pekerjaan proyek siswa, hasil interview, dan hasil tes FCI menunjukkan bagaimana penggunaaan metode konstruktivis inkuiri dalam pengajaran fisika menghasilkan relevansi dan kebermaknaan belajar bagi banyak siswa. Grup pemantulan bola menghubungkan fisika dan matematika ketika mereka melakukan proyek mereka dan menyelidiki pengertian fisika dan matematika dari slope kecepatan terhadap waktu. Demikian juga nilai posistif atau negative dari kecepatan yang mengindikasikan arah gerak benda. Kelompok Ayunan Newton menemukan ide kekekalan energi dan transfer energi berguna, dan salah satu anggotanya membayang bagaimana dia dapat mendesain kendaraan yang lebih aman.
Hasil pengujian FCI menunjukkan gain yang lebih besar daripada pengajaran tradisional. Kesulitan siswa penulis terutama dalam gerak melingkar.

14 Mei 2009

Analisis Jurnal

Dealing more effectively with alternative conceptions in science
Carl J. Wenning, Physics Teacher Education Program, Illinois State University, Normal, IL 61790-4560
E-mail: wenning@phy.ilstu.edu

Journal of Physics Teacher Education Online, Vol. 5, No. 1 Summer 2008 Page 11 – 19, www.phy.ilstu.edu/jpteo

Dalam artikel ini Wenning mengemukakan keberadaan konsepsi alternatif (alternative conceptions) pada berbagai jenjang pendidikan siswa. Konsepsi alternative diartikan sebagai pemahaman yang dipegang oleh siswa yang bertentangan pemahaman umum yang diterima secara ilmiah oleh kebanyakan ilmuwan. Masalah konsepsi alternatif yang dibahas terutama masalah fisika mekanika Newtonian. Pembahasannya dimulai dari berbagai contoh konsepsi alternatif dalam mekanika. Misalkan percepatan sebuah benda yang jatuh tergantung pada massanya. Atau, tidak ada gaya gravitasi di ruang angkasa.
Wenning juga mendiskusikan asal mula konsepsi alternatif ini pada siswa. Menurutnya, sulit sekali menemukan asal-mulanya konsepsi alternatif ini. Hal-hal yang memungkinkan menjadi penyebab timbulnya konsepsi alternatif ini bisa berasal dari kesalahan pemahaman, miskomunikasi, misedukasi, bahkan bisa karena kesalahan penerapan prinsip-prinsip fisika yang telah terbangun dengan baik. Penyebab lainnya bisa berasal pernyataan-pernyataan salah yang dikenalnya melalui lingkungan, orangtua, teman, bahkan gurunya.
Wenning juga mengemukakan bagaimana sejarah perkembangan upaya-upaya untuk menanggulangi keberadaan konsepsi alternative ini. Beberapa model yang telah dikembangkan antara lain Conceptual Change Model dan Concept Exchange Model. Kedua model ini termasuk model yang paling awal dikembangkan.Kedua model ini mendapat kritik dari Hammer dan yang lain karena dianggap kurang memberdayakan siswa. Beberapa model pembelajaran yang lain yang dimaksudkan mengatasi konsepsi alternative ini antara lain learning cycles (Karplus, 1981), Conceptual change theory oleh Posner et al. (1982), bridging analogies (Clement, 1988; Perschard & Bitbol, 2008), microcomputer-based laboratory experiences (Thornton & Sokolof, 1990;Thornton, 1987), disequilibration techniques (Minstrell, 1989; Dykstra, Boyle, & Monarch, 1992), pendekatan inkuiri yang digabung dengan strategi substitusi konsep (Harrison et al., 1999), pengajaran metaconceptual untuk mempengaruhi aspek problematic tertentu dari perubahan konseptual (Wiser & Amin, 2001), dan a teaching model (Thomaz et al., 1995).
Secara umum pendekatan yang digunakan pada model-model di atas adalah dengan mengarahkan siswa untuk masuk pada konsepsi alternative mereka. Selanjutnya mereka dibenturkan dengan pengalaman baru yang benar dan bertentangan dengan keyakinan mereka. Pendekatan ini didasarkan pada perspektif pembelajaran Piagetian. Yang menjadi sentral dalam mengatasi konsepsi alternative ini adalah peranan siswa dalam mengorganisasi pengetahuannya.
Pendekatan ini secara umum terdiri atas 3 fase: dapatkan, benturkan, pecahkan (Elicit-Confront-Resolve). Dalam model ini dalam fase pertama guru menggali respon siswa terhadap suatu situasi. Selanjutnya benturkan siswa dengan situasi yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Dalam fase ini, jika prediksi mereka salah, maka mereka akan mengalami konflik kognitif antara prediksi dan pengalaman. Dengan demikian siswa memerlukan suatu pemahaman konsep baru dan termotivasi untuk memecahkan konflik tersebut.
Namun demikian, menurut beberapa penelitian pendidikan fisika, pendekatan seperti ini tidak selalu efektif dalam pembelajaran fisika. Penggunaan Modeling Method of Instruction menegaskan pernyataan ini. Pengujian dengan Force Concept Inventory untuk menilai keefektifan guru mencapai standar minimal performa pengajaran menunjukkan bahwa guru baru (novices modeler) yang menggunakan metode tersebut hanya mampu meningkatkan skor FCI siswanya sebesar 16%. Sedangkan guru ahli (experts modeler) dengan metode yang sama menghasilkan peningkatan lebih dari 40%.
Didasarkan pada pengalamannya bergaul dengan guru ahli (experts modeler) di Chicago ITQ Science Project, Wenning mengusulkan suatu pendekatan atau model baru dalam mengatasi konsepsi alternative dalam fisika yang dia sebut dengan model ECIRR (Elicit-Confront-Identify-Resolve-Reinforce), dapatkan-benturkan-identifikasi-pecahkan-kuatkan. Wenning menambahkan Identify dan Reinforce bagi pengembangan modelnya. Dia membahas pentingnya dua langkah yang dia masukkan melalui pendekatan psikologi kognitif.
Langkah identifikasi digunakan untuk menjadikan siswa sadar bahwa ada konsepsi alternative dalam diri mereka. Namun demikian, penyadaran ini tidak boleh dilakukan dengan mengatakan kepada mereka bahwa mereka salah. Langkah ini harus mengikuti langkah benturkan secara halus. Sedangkan langkah penguatan harus dilakukan secara berulang, setiap saat, dan dalam berbagai kondisi.
Pada bagian akhir, Wenning memberikan contoh bagaimana langkah-langkah ECIRR ini diterapkan dalam menanggulangi konsepsi alternative: tidak ada gaya gravitasi di ruang angkasa.

Komentar:
Dalam artikel ini penulis mengajukan sebuah model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan untuk mengatasi masalah konsepsi alternatif, dan penelitiannya masih belum dilaksanakan. Oleh karena itu sangat memberi peluang bagi kita untuk menindaklanjuti temuan dalam artikel ini dan meneliti secara mendalam model ECIRR secara serius.